Angkot terguling jatinangor menjadi perhatian dalam kabar terbaru ini. Sebuah angkot dilaporkan terguling di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, pada 19 Juni 2026, menimbulkan korban di kalangan pelajar. Dari kejadian itu, 17 siswa dari SMPN 1 Tanjungsari mengalami luka-luka.

Sopir angkot diduga dalam pengaruh alkohol setelah kecelakaan. Usai kejadian, yang bersangkutan dikabarkan berpura-pura kesurupan dan mengeluarkan gerakan yang disebut “Jurus Pamacan”, tindakan yang menarik perhatian warga di lokasi.
Kronologi singkat kejadian
Keterangan awal yang beredar menyebutkan angkot terguling di wilayah Jatinangor dan melibatkan penumpang yang sebagian besar adalah pelajar SMPN 1 Tanjungsari. Jumlah korban luka yang tercatat sebanyak 17 siswa. Detail penyebab pasti kecelakaan belum tersedia secara menyeluruh, namun ada laporan bahwa sopir diduga mabuk sebelum angkot terguling.
Setelah kendaraan terguling, perhatian massa tertuju pada perilaku sopir yang dikabarkan berpura-pura kesurupan dan melakukan apa yang disebut sebagai “Jurus Pamacan”. Perilaku tersebut sempat menjadi fokus di lokasi kejadian karena dianggap tidak lazim pada saat darurat.
Korban dan penanganan awal
Dari data yang ada, 17 siswa SMPN 1 Tanjungsari mengalami luka-luka. Informasi rinci mengenai tingkat keparahan luka, pengobatan yang diterima, atau rumah sakit rujukan tidak dicantumkan secara spesifik dalam catatan awal kejadian. Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan orang tua dan masyarakat sekitar.
Karena korban merupakan pelajar, proses evakuasi dan penanganan awal di lokasi menjadi perhatian utama warga yang hadir. Situasi di lokasi digambarkan tegang, terutama saat sopir menunjukkan perilaku yang tidak biasa usai kecelakaan.
Perilaku sopir dan reaksi warga
Salah satu aspek yang menonjol dalam insiden ini adalah dugaan sopir yang sedang mabuk dan kemudian berpura-pura kesurupan. Aksi yang disebut “Jurus Pamacan” menarik perhatian warga dan memicu reaksi di lokasi. Perilaku sopir dianggap mengganggu upaya penanganan korban sekaligus menimbulkan tanda tanya soal kondisi pengendara sebelum dan sesudah kecelakaan.
Kesaksian warga yang berada di sekitar lokasi menyebutkan adanya kebingungan dan kemarahan akibat insiden tersebut. Banyak pihak berharap ada penjelasan yang jelas mengenai kondisi sopir dan penyebab utama kecelakaan agar kejadian serupa tidak terulang.
Tuntutan kejelasan dan keselamatan transportasi
Kecelakaan yang melibatkan pelajar ini kembali menyoroti isu keselamatan transportasi angkutan umum di sekitar kawasan pendidikan. Kejadian di Jatinangor mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap kondisi pengemudi dan kelayakan kendaraan yang mengangkut anak sekolah.
Masyarakat menuntut kejelasan mengenai penyebab terjadinya angkot terguling dan langkah-langkah yang akan diambil untuk melindungi pelajar. Hingga saat ini, informasi resmi yang lengkap terkait penyelidikan, penyebab pasti, dan langkah tindak lanjut belum tercantum secara rinci dalam laporan awal.
Kejadian ini meninggalkan dampak emosional bagi keluarga siswa dan warga setempat. Penanganan korban, penjelasan soal kondisi sopir, dan upaya pencegahan menjadi hal yang diharapkan segera diperjelas oleh pihak berwenang untuk memberi kepastian bagi masyarakat dan mencegah insiden sejenis.
