Dalam menghadapi tantangan ekonomi nasional, isu defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi pusat perhatian. Defisit yang mencapai angka Rp695,1 triliun pada akhir Desember 2025, setara dengan 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB), menimbulkan pertanyaan tentang strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Purbaya Yudhi Sadewa, seorang ekonom terkemuka, menyatakan bahwa meski defisit dapat ditekan hingga nol persen, dampaknya pada perekonomian bisa sangat merugikan.
Makna Defisit dalam Konteks Ekonomi
Defisit anggaran merupakan kondisi di mana pengeluaran pemerintah melebihi pendapatannya. Situasi ini seringkali dihadapi banyak negara sebagai bagian dari proses pembangunan ekonomi. Dalam konteks Indonesia, defisit sebesar 2,92% dari PDB mencerminkan kebijakan fiskal yang masih longgar, dengan tujuan untuk mendanai berbagai proyek infrastruktur dan program sosial. Namun, penting untuk diingat bahwa defisit yang terlalu besar dapat mempengaruhi kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi jangka panjang.
Strategi Mengelola Defisit
Purbaya mengemukakan bahwa menurunkan defisit hingga nol persen adalah hal yang mungkin, namun akan ada konsekuensi serius. Pemotongan anggaran secara drastis bisa menyebabkan pengurangan belanja negara dalam sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan. Selain itu, berkurangnya investasi pemerintah dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan ini perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Oleh karena itu, pendekatan yang seimbang dan terfokus pada peningkatan pendapatan negara tanpa mengorbankan pertumbuhan adalah hal yang krusial.
Tantangan Fiskal dan Struktur Pajak
Salah satu solusi untuk mengurangi defisit adalah dengan meningkatkan pendapatan negara melalui reformasi perpajakan. Optimalisasi penerimaan pajak dapat dilakukan dengan memperluas basis pajak dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Selain itu, transparansi dalam penggunaan anggaran dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor. Namun, tantangan terbesar dalam penerapan strategi ini adalah penolakan dari berbagai pihak yang merasa terbebani, baik dari sektor bisnis maupun masyarakat umum.
Dampak Stabilitas Ekonomi
Mengatur defisit dengan cermat sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi. Defisit yang dikelola baik dapat menjadi alat untuk merangsang pertumbuhan ekonomi melalui belanja negara yang produktif. Namun, jika dibiarkan tidak terkendali, hal ini bisa berujung pada krisis ekonomi yang lebih dalam. Stabilitas ekonomi tidak hanya bergantung pada kebijakan anggaran, tetapi juga pada stabilitas politik dan kebijakan moneter yang efektif.
Peran Kebijakan Moneter
Selain kebijakan fiskal, kebijakan moneter yang diterapkan oleh Bank Indonesia juga memegang peranan penting dalam menjaga defisit agar tidak berdampak negatif pada perekonomian. Pengendalian inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah adalah beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi tekanan akibat defisit anggaran. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat esensial dalam menciptakan lingkungan ekonomi yang stabil dan kondusif.
Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
Dampak langsung dari pengelolaan defisit anggaran adalah pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan yang berkelanjutan dan terarah akan meningkatkan kualitas hidup, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan. Dukungan terhadap sektor-sektor produktif, penguatan daya saing, dan peningkatan infrastruktur menjadi kunci dalam mencapai pertumbuhan yang inklusif. Dengan demikian, penekanan pada pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan adil harus tetap menjadi prioritas dalam kebijakan pengelolaan defisit.
Kesimpulannya, isu defisit APBN tidak hanya tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan stabilitas fiskal. Dibutuhkan kebijakan yang cerdas dan lintas sektor untuk memastikan bahwa defisit dikelola dengan bijak tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Kombinasi antara kebijakan fiskal yang seimbang, reformasi pajak, serta kebijakan moneter yang stabil akan menjadi kunci dalam mencapai tujuan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan inklusif.
